يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ
خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا
تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ
تَعْقِلُونَ (١١٨)
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi bithanah dari
orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami), jika kamu memahaminya". (Q.S. Ali Imran: 118)
Bithanah
Ad-Da'awiyah
Bithanah dalam bahasa Arab berarti rangkapan baju dalaman.
Seperti jas yang bagian dalamannya dilapisi kain tipis yang dikenal dengan
sebutan puring. Dia tidak kelihatan, tapi cukup menentukan penampilan baju.
Dengan pengertian itu, bithanah kemudian diusung ke dalam bahasa siyasi
untuk menyebut mereka yang berada di belakang pemimpin atau penguasa. Sebagai
pengokoh dalam menjalankan sebuah kekuasaan.
Kaisar, raja, atau presiden, biasanya mempunyai orang-orang
dekat yang dipercaya. Mereka yang dekat dan dipercaya ini, ada yang, karena kapasitasnya,
dipilih menjadi pembantu resmi, seperti menteri dan gubernur; ada yang, karena
satu dan lain hal, justru tidak dimunculkan sebagai pembantu resminya. Yang
terakhir ini--yang dimaksud bithanah--meski tidak tampak sebagai
pembantu resmi, sering kali justru lebih berpengaruh dan menentukan. Mereka
tidak tampak terutama pada saat sang penguasa bersangkutan berkuasa. Bahkan ada
yang tetap tidak tampak dan tidak diketahui meskipun sang penguasa sudah tidak
berkuasa lagi.
Memang kadang-kadang ada bithanah yang sekaligus juga
pembantu resmi, atau semula merupakan orang-orang kepercayaan penguasa di
belakang layar, kemudian diangkat menjadi pembantu resminya. Dalam sejarah
kekuasaan, bithanah banyak memiliki peran kelangsungan dan kekokohan
para penguasa. Sebagai contoh salah satunya Haman adalah bithanah
kepercayaan Fir'aun yang sekaligus merupakan pembantu resminya.
Bila
dikaitkan dengan dakwah maka bithanah da'awiyah merupakan bagian-bagian yang
menjadi pengokoh dakwah agar senantiasa berdiri tegar. Adapun bithanah
da'awiyah ini lebih kepada penguatan dakwah di tengah-tengah masyarakat dengan
berbagai persoalan yang melingkupinya. Hal ini menjadi sangat urgen bila
melihat aspek penerapan sistem ajaran Islam yang lebih mengakar. Sedang
bithanah da'awiyah yang dimaksud adalah:
1.
At Ta'yidul Wal Muqabalah Mutanawi'ah
(Dukungan dan Sambutan yang beragam)
Dukungan
dan sambutan masyrakat terhadap dakwah mempengaruhi eksistensinya. Implikasinya
adalah atensi mereka yang semakin besar pada dakwah dan dtindak lanjuti
kesertaan mereka menjadi bagian dari dakwah ini. Dakwah dapat semakin eksis
selama masyarakat yang beragam menjadi instrument dalam menjalankan roda dakwah
ini. adapun indikasinya adalah bahwa masyarakat menerima seruan ajarannya ini
dengan sikap ridha dan lapang. Bila kenyataan ini benar maka masyarakat
merupakan potensi yang amat besar untuk memberikan pembelaan dan kontribusinya
terhadap dakwah.
Sedang
para kader menjadi simpul-simpul masyarakat yang beragam untuk dapat
menggerakkan mereka. Dan diperlukan dalam jumlah yang besar dan merata. Sebab
simpul-simpul itu harus berada didalamnya. Ini dapat memudahkan tadakhul
da'awiyah padanya. Maka penyebaran kader harus merata di berbagai wilayah. Hal
ini perlu mendapatkan perhatian agar bisa dievaluasi dengan seksama dan
secermat mungkin untuk dapat mengantisipasi perkembangan dakwah.
Rasulullah
SAW. senantiasa mengamati perkembangan dakwah Islam dengan pendekatan
siapa-siapa yang sudah menerima Islam dan kabilah-kabilah mana saja yang sudah
Islam. Metodelogi evaluasi melalui orang dan kabilah yang masuk Islam ini
menunjkan bahwa sejauh mana dukungan masyarkat luas pada dakwah Islam. Bila
dukungan masyrakat itu real dengan masuknya mereka pada Islam maka dakwah Islam
dapat semakin kokoh dan kuat karena mendapat dukungan dari berbagai kekuatan
dalam masyarakat. Tentunya dakwah ini memerlukan sejumlah besar orang-orang
yang memperjuangkannya. Agar mereka menjadi tameng dan sekaligus sebagai
ansharud da'wah dalam menghadapi serangan musuh-musuh dakwah. Karena itu Allah
SWT. mengingatkan agar bisa menegakan dakwah ini bersama sejumlah besar
pengikut-pengikutnya yang setia.
"Dan
berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada
musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar". (Q.S. Ali Imran: 146)
Karenanya
dukungan dan sambutan masyarakat ini perlu dievaluasi dan ditingkatkan kapasitas
dan kapabiltasnya lantaran ia sangat berpengaruh pada kelangsungan dan
kekokohan dakwah ini. ia menjadi salah satu unsur bithanah terhadap dakwah.
2.
Quwwatul Matanatid Dakhiliyah (Soliditas
internal yang kuat)
Dakwah
menjadi bangunan yang kuat manakala orang-orang yang berhimpun didalamnya solid
dan saling membantu. Bagaikan bangunan megah yang terdiri dari satu material dengan material lainnya
saling menguatkan. Tidak ada kerapuhan sedikitpun diantara komponen di
dalamnya. Bila hal ini terjadi pada orang-orang yang berhimpun dengan dakwah
sangat kuat, tidak ada pertikaian, iri, dengki, hasad, maupun bermusuhan. Maka
bangunan dakwah menjadi bangunan yang indah dan kuat tidak akan goyah oleh
goncangan apapun. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang
di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu
bangunan yang tersusun kokoh". (Q.S. As Shaff: 4)
Rasulullah
SAW. amat perhatian pada soliditas internal yang terjadi di kalangan para
sahabat. Beliau selalu memberikan arahan ketika dilihatnya ada benih-benih yang
dapat memporakporandakan kesatuan dan kesolidan kaum muslimin. Beliau pun akan
menyegerakan mereka untuk melakukan berbagai amaliyat menghindari sisi
kerapuhan interaksi social mereka. Sangat banyak taujihat nabawiyah pada
masalah ini sampai-sampai di akhir hayatnya beliau mengingatkan agar jangan
saling hasad, dengki, iri, dan bermusuhan karena sesungguhnya kaum muslimin
merupakan bersaudara bagaikan satu tubuh.
Memang
sangat mungkin sekali gesekan antar individu dalam amal jihad siyasi kemarin
terjadi. Dan ini dapat menimbulkan luka di hati. Ada yang kesal dengan ikhwah karena dianggap
kurang peduli memberikan kontribusi pada jihad siyasi yang lalu. Ada pula yang merasa
memiliki kewenangan sehingga seakan-akan mendominasi kepentingan pada alur
struktural dan penggalangan ikhwah. Yang berakibat pada ketidak sukaan akan gaya dan style 'ikhwah'
tersebut. Oleh sebab itu perlulah mentadaburi taujihat rabbaniyah ini agar
terhindar dari hal-hal yang dapat berakibat buruk pada soliditas internal.
"Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah
kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di
tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".
(Q.S. Ali Imran: 103)
3.
At Thaqah Wal Miharul Muta'ammiqah
(Kemampuan dan keahlian yang mumpuni)
Untuk
dapat mengemban amanah dakwah yang besar maka tidak bisa dielekan lagi bahwa
kemampuan dan keahlian menjadi satu hal yang harus diperhatikan. Bahkan
kemampuan dan keahlian yang dimiliki para kader dakwah harus pada tingkatan
mumpuni di berbagai bidang. Karena
urusan yang diamanahkan kepadanya semakin besar. Sudah barang tentu kualitas
ekspert dan skillnya yang perlu dikembangkan agar mampu menunaikan tugas besar
tersebut. Sebab bila ini tidak terpenuhi amat mungkin amanah itu terabaikan
pelaksanaannya. Sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah SAW. bahwa bila
satu urusan diberikan pada orang yang tidak mumpuni maka tunggulah saat
kehancurannya.
Pada
masa pemerintahan Umar ibnul Khaththab RA. kemampuan dan keahlian para sahabat
mulai beragam dan tersebar ke berbagai bidang. Hal ini tentu berkaitan dengan
tugas kepemimpinan yang teramat berat yang dipikulnya. Umat Islam yang beragam
kultur dan budayanya serta wilayah cakupannya yang amat luas merambah daerah
sekitar jazirah. Sehingga skill dan
ekspert yang mereka miliki harus menyentuh pada persoalan yang dinamis terjadi
saat itu. Dan ini sangat terkait dengan bangunan dakwah dan penyebar luasannya.
Para sahabat ada yang ahli dalam bidang budaya
dan kultur suatu masyarakat. Sehingga mempermudah bagi yang lainnya untuk
mengenal tabiat dan tradisi masyarakat setempat. Dan hal ini sangat bermanfaat
untuk memulai penetrasi dakwahh didalamnya. Ada pula yang ahli dalam komunikasi lantaran
ia sudah bisa berdialog dengan beberapa bahasa setempat. Ada pula yang ahli dalam bidang pemerintahan
sehingga bermunculan berbagai kelembagaan yang membantu pelaksanaan
pemerintahan suatu daerah.
Amatlah
tepat apa yang difirmankan Allah SWT. "Katakanlah: "Tiap-tiap orang
berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui
siapa yang lebih benar jalannya". (Q.S. Al Isra': 84). Agar seluruh kader
dakwah ini dapat mempermulus perjalanan dakwah dan kekokohannya. Dan sekali
lagi ini berpulang pada kemampuan dan keahlian kader-kadernya.
4.
Tarqiyatu Qudrah Lit Tashadum
(Meningkatnya kemampuan untuk berbenturan)
Bila
diibaratkan dengan pohon maka semakin tinggi suatu pohon yang menjulang semakin
banyak angin yang menggoyang. Hanya pohon yang berdiri tegak dengan akar yang
menghunjam saja yang mampu bertahan akan terpaan angin tersebut. Sekalipun
angin itu berupa badai yang ganas. Kalaupun terjadi goyang hanya meruntuhan
ranting-ranting kecil atau dahan-dahan yang rapuh. Kalau hal ini dikaitkan dengan
dakwah maka semakin tegaknya bangunan dakwah semakin banyak ujian yang dating
pada dakwah ini. Baik ujian yang menyenangkan atau ujian yang menyusahkan. Oleh
karena itu dakwah ini berikut kader-kadernya perlu membentengi diri dengan
kemampuan untuk bisa menghadapi benturan-benturan. Apalagi benturan dakwah
merupakan sesuatu yang lumrah sebagai sunnah dakwah yang terjadi pada semua
zaman. Bila kemampuan tersebut dipahami dengan baik paling tidak bisa
menghadapinya dengan kesiapan psykologis yang memadai.
Sebagaimana
kita pahami bahwa sesudah terjadinya Badar, kaum muslimin semakin menyiapkan
diri untuk menghadapi upaya musuh menekan dakwah. Kesiapan yang cukup dapat
menggetarkan siapa saja yang akan memusuhi dakwah ini. Karenanya Allah SWT.
ingatkan akan kesiapan untuk menghadapi benturan yang bakal terjadi. Sekalipun
tabiat dasarnya seorang mukmin adalah tidak mencari-cari musuh akan tetapi bila
sudah berhadapan maka tidak boleh lari darinya.
"Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan)". (Q.S. Al Anfal: 60).
5.
Taqwiyatu Al Jawwi at Tarbawiyah
(Menguatnya iklim tarbiyah)
Bithanah
Dakwah ini yang juga patut diperhitungkan adalah penguatan iklim tarbiyah. Iklim yang menajamkan pada kekuatan spiritual
dalam melaksanakan aktivitas harianpada sanubari setiap kadernya. Sehingga
kekuatan maknawiyah kader selalu dalam stamina yang prima. Agar para kader
dakwah mempunyai bekalan yang cukup untuk mengembangkan jaringan dakwah dan
terus memperjuangkannya. Menguatnya iklim tarbawi berupa penanaman sikap
komitmen pada Islam dapat melahirkan sikap militansi yang kuat. Hal ini juga
berhubungan erat dengan optimalisasi pelaksanaan tarbiyah bagi para kader. Juga
dengan penerapan dan disiplin terhadap manhaj tarbiyah.
Karena
iklim tarbiyah ini menjadi bithanah dakwah maka ta'shil tarbawiyah sesegera
mungkin digelorakan kembali seperti pada waktu-waktu normal. Agar iklim
tarbiyah ini lebih mewarnai aktivitas yang sedang berlangsung. Seorang ulama
dakwah mengingatkan, al ams ad da'wah takhdumus siyasah. Wal an as siyasah la
budda an takhdumad da'wah, kemarin dakwah memberikan pelayanan pada aktivitas
persiyasian sekarang ini siyasi harus memberikan pelayanannya untuk dakwah.
Kita
tentu sangat mengerti bahwa unsur yang esensial dalam kehidupan orang yang
beriman adalah kekuatan aspek spiritual. Karena hal ini menjadi salah satu
pintu menuju kemenangan dakwah. Karenanya Allah SWT. perintahkan untuk
mewujudkan suasana itu menjadi atmosfir yang amat dibutuhkan kader-kader
dakwah. "Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan".
(Q.S. Al Hajj: 77).
Ketika
kekuatan dakwah ini mengakar pada lapisan umat manusia ia bisa menjadi bolduser
masyarakat dalam mengarahkan mereka pada kebajikan yang dikenal dengan sebutan
Wilayatul Hisbah atau kontrol sosial. Bila demikian maka seluruh komponen
masyarakat memiliki kewenangan untuk memberikan kontrol terhadap dinamika
kehidupan masyarakat luas. Baik yang berhubungan dengan urusan kemasyrakatan
atau dalam pengelolaan Negara atau pemerintahan. Kewenangan kontrol sosial dapat berupa
kewenangan Ar Ri'asah (kepemimpinan dan pelayanan). Artinya semua orang
memiliki tangung jawab untuk mengarahkan kehidupan didalamnya terhadap
kebajikan dan peduli pada hal-hal yang dapat membahayakan kehidupan sosial. Dan
kewenangan ini memang berpusat pada penanggung jawab langsung yakni adalah
pemerintah. Atau juga berupa kewenangan Ar Ri'ayah (penjagaan).
Maksudnya adalah memberikan khidmah pada umat dan menjaga stabilitas kehidupan
masyarakat. Sehingga masyarakat berada pada jalur kehidupan yang benar untuk
meraih keberkahan yang telah dijanjikan Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana
yang diibaratkan Nabi SAW. bagaikan penumpang dalam bahtera. Bila ada penumpang
yang akan melubangi bahteranya maka yang lain harus mencegahnya bila tidak,
maka akan menenggelamkan seluruh penumpangnya. Wallahu 'alam bishshawab.
"Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya". (Q.S. Al 'Araf: 96).
No comments:
Post a Comment